untuk Taryono..
Sudah banyak yang menulis puisi tentang kaummu, dari penyair jalanan sampai sastrawan besar. Aku bukan penyair jalanan,dan aku memang bukan sastrawan. Aku hanya terpukau oleh sorot matamu. Sorot mata yang begitu tajam bagai pedang bermata dua di tangan pahlawan. Sorot mata yang jernih, sejernih lautan kaca yang belum dijamah manusia. Adakah penyair yang pernah menuliskan, tak ada sepasang mata seindah matamu? Di matamu kutemukan sinar kehidupan, yang penuh gairah dan gelora, bagaikan ombak lautan yang bergulung-gulung di tengah samudera lepas.. Di matamu kutemukan dahaga yang besar, dahaga akan negeri indah di atas sana, yang begitu tinggi untuk kau gapai.. Aku sama sekali bukan penyair hebat, dan puisiku ini sama sekali bukan puisi besar., tapi aku menjanjikan segenap hidupku agar kau bisa sampai ke sana, agar gelora hidupmu menemukan pantai putih yang dirindukannya, agar dahaga hidupmu menemukan kepuasannya.. Karena hanya hidupku, dan puisi ini, yang bisa kuberikan kepadamu.
Lio, 10-04-00
Sam el-Ladh