Malam itu aku bermimpi. Surga dilanda keheningan. Malaikat-malaikat bersiaga, menantikan titah Sang Maha Tinggi. Jalan-jalan yang berkilauan oleh emas tampak sepi, hanya bunyi kecipak air sungai kehidupan yang sayup-sayup terdengar. Sesuatu yang luar biasa sedang terjadi, sesuatu yang maha penting dan maha mulia.
Di Tahta Suci sedang terjadi perundingan. Sang Bapa, Sang Anak, dan Sang Roh Kudus, keTiga Yang Esa sedang berunding mengenai nasih umat manusia ciptaan-Nya.
"Manusia semakin hari semakin jahat. Manusia makan dan minum, kawin dan mengawinkan. Semua kecenderungan hati manusia membuahkan kejahatan semata-mata. Lembu mengenal tuannya, namun umat manusia tidak lagi mengenal siapa penciptanya." Terdengar suara Sang Roh mengeluhkan keadaan di bumi.
"Mereka Kuciptakan untuk memuliakan nama-Ku, tetapi mereka meninggalkan Aku. Mereka Kuciptakan untuk bersekutu denganKu, tetapi mereka menyembah patung lembu tuangan. Hamba-hambaKu mereka bunuh. Mereka tak mau lagi mendengarkan Aku." Tutur Sang Bapa dengan hati yang sedih.
"Mereka telah melupakan bagaimana Aku memusnahkan nenek moyang mereka dengan air bah. Mereka tak ingat lagi bagaimana AKu pun memimpin nenek moyang mereka keluar dari tanah perhambaan. Hukuman apakah lagi yang harus Aku berikan kepada mereka?" Tampak Sang Bapa meneteskan air mata.
"Jangan menghukum mereka lagi, Bapa!" Tiba-tiba Sang Anak memecah keheningan. "Pada saat umat manusia berbalik dariMu dan menyembah yang jahat, ada Nuh dan keluarganya yang tetap setia. Saat Sodom dan Gomora dibinasakan, ada sahabat kita Abraham yang membela Lot dan keluarganya. Saat umatMu berada dalam pembuangan, ada Daniel yang berdiri membela keagungan namaMu. Inilah saatnya bagiKu, Bapa." Sang Anak melanjutkan, "Inilah saatnya bagiKu untuk membela umatKu. Biarlah Aku yang dihukum menggantikan mereka. Biarlah Aku yang menjadi anak domba sembelihan demi keselamatan mereka."
"Gita sorga bergema, 'Lahir Raja Mulia!
damai dan sejahtera, turun dalam dunia'
Bangsa-bangsa bangkitlah dan bersoraklah serta
Permaklumkan Kabar Baik
Lahir Kristus T'rang Ajaib
Gita sorga bergema, 'Lahir Raja Mulia!'
Suara merdu kelompok paduan suara yang sedang berlatih di gereja di sebelah rumahku membangunkan aku dari mimpiku.
Desember 1994
Sam-el Ladh