Damai sejati bukan berarti hidup tanpa masalah. Melalui kelahiran Yesus yang justru dalam kekacauan, kita belajar bahwa damai surgawi adalah anugerah yang melampaui keadaan. Mari renungkan maknanya dan lakukan 3 langkah praktis untuk memilikinya.
Iman bukan hanya soal percaya kepada Tuhan, tetapi bagaimana kepercayaan itu nyata dalam tindakan sehari-hari—mulai dari menepati janji, jujur, hingga hidup berintegritas. Mari belajar dari kisah Yakub dan Esau tentang konsekuensi, anugerah, dan iman yang hidup.
“Taken for granted” atau menganggap remeh adalah sikap berbahaya, baik dalam hidup sehari-hari maupun iman. Kisah Alkitab tentang Yakub dan Esau memberikan pelajaran abadi tentang hal ini.
Iman Next Level: Tantangan, Keberanian, dan Mukjizat dalam Kehidupan Sehari-hari
Pernah merasa hidup rohani Anda datar? Mungkin saatnya naik level. Iman yang sesungguhnya bukan sekadar percaya di hari Minggu, tapi menjadi kompas dalam setiap keputusan hidup
Renungan Natal yang mendalam: mengapa Natal dimulai dari pinggiran, bukan pusat? Temukan makna Imanuel dan panggilan untuk mencintai dengan tulus dan rentan seperti Yesus
Kata Imanuel sudah akrab di telinga kita, terutama di masa Adven dan Natal. Kita mengutipnya dengan penuh pengharapan: “Allah beserta kita.”
Kesetiaan Tuhan adalah fondasi kekristenan yang sering kita dengar, namun terkadang sulit kita percayai sepenuhnya ketika janji-Nya tampak begitu lama digenapi.
Persembahan sering kali direduksi hanya menjadi urusan uang di dalam amplop. Namun, 2 Korintus 9 ini mengajak kita melihat lebih dalam: persembahan adalah soal mempersembahkan seluruh hidup kita—waktu, tenaga, akal budi, dan kreativitas—sebagai wujud syukur dan penyembahan yang sejati.
Yesus menceritakan sebuah perumpamaan menakutkan tentang orang yang terus menumpuk harta, tapi malam itu juga nyawanya diambil. Ini adalah peringatan serius tentang racun bernama ketamakan yang diam-diam menggerogoti jiwa kita.
Orang Samaria yang Baik Hati: Rahasia Hidup Kekal yang Sering Terlupakan
Dalam perumpamaan yang terkenal, Yesus bukan hanya mengajarkan tentang menolong orang lain. Ia membongkar pola pikir religius kita dan menunjukkan bahwa rahasia hidup kekal terletak pada belas kasihan yang aktif kepada mereka yang “tidak tersentuh” dan “tidak bersuara”.
Yesus tidak datang membawa Injil yang jinak dan netral. Pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah bersifat subversif—membalikkan tatanan yang tidak adil dan menantang sistem yang menindas. Mengikuti Yesus berarti berani hidup dalam iman yang mengguncang kenyamanan dan berpihak pada kehidupan.
Tuaian Banyak, Pekerja Sedikit: Apa Artinya Menjadi Gereja yang Sejati?
“Tuaian memang banyak, pekerja sedikit.” Kalimat itu sering terngiang. Tapi, pernahkah kita benar-benar berhenti dan bertanya: “Apa yang sebenarnya Tuhan mau katakan lewat kalimat ini kepada saya?”











